OLEH: R.DACHRONI
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar,” (QS.An-Nisa: 9)
Renungkanlah surat An-Nisa ayat 9 ini. Setidaknya ada tiga hal yang dapat saya tangkap. Pertama, ketakutan seorang muslim hanyalah kepada Allah SWT. Kedua, adanya generasi lemah atau generasi memble seperti judul yang saya tulis. Ketiga, tanggungjawab generasi mapan atau generasi-generasi beriman terhadap generasi-generasi memble seperti yang penulis maksud.
Ya, terus terang di tengah kondisi bangsa yang diselimuti sejuta permasalahan. Di tengah kondisi bangsa yang dililit sejuta bencana. Di tengah beragam kecacatan moral para pemuda saat ini, kita seolah-olah lupa atau sengaja melupakan bahwa dibelakang kita masih banyak generasi-generasi yang hilang semangat hidupnya. Generasi yang tidak sadar dengan kemampuan yang dianugrahkan Tuhan kepadanya. Mau jadi apa bangsa ini?
Sementara itu, manusia atau generasi mapan lainnya sibuk dengan aktivitas individualnya. Cap makhluk sosial (zoon politicon) tampaknya hanya stempel belaka. Paham individualisme ada dimana-mana. Keberimanan dan ketakwaan hanya setakat ada pada beberapa individu dan beberapa individu yang penulis sebut sebagai generasi mapan itu tidak pula menularkan keberiman dan ketakwaan yang ada padanya. Dengan kata lain, ada semacam kecuekan oleh sebagian orang yang alim dan faqih terhadap sekelompok generasi yang lemah dan kebetulan belum mendapatkan hidayah untuk saleh.
Ini tentu berbahaya, bagi sebuah komunitas jamaah Islam yang tentunya memiliki cita-cita membumikan peradaban Islam. Artinya, hal ini menjadi tanggungjawab para aktivis yang senantiasa menyuarkan suara kebenaran untuk membina anggota-anggota yang ada dibawahnya baik itu dari aspek kontuinuitas agenda-agenda perekrutan maupun pembinaan kepada anggota-anggota yang sudah dikader atau direkrut.
Jangan sampai Allah SWT murka dan menggantikan kita dengan generasi-generasi lainnya untuk menggantikan kita karena kita lalai untuk mentransfer virus-virus keimanan dan ketakwaan karena kita merasa diposisi yang aman. Tentunya segala amal dan perbuatan kita tetap dipertanyakan dan itu berarti sama saja generasi yang saya sebut mapan itu tidak jauh berbeda dengan generasi memble karena gagal dan tak mampu mengupayakan generasi-generasi lemah menjadi generasi-generasi yang kokoh dan taat kepada agamnya.
Selanjutnya Allah SWT lah yang mengatur segala sesuatunya dan renungilah ayat yang penulis kutip dari QS Al-Maidah ayat 54 ini;
“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui,” (QS. Al-Maidah; 54)
Semua berharap, kitalah generasi-generasi yang tidak murtad dan generasi-generasi yang senantiasa memikirkan umat dan pemberi solusi karena pada hakikatnya hidup ini jelas kanan dan kirinya, halal dan haramnya, sehingga menimbulkan dua tipologi jenis manusia satu manusia yang senantiasa memberikan solusi atau manusia yang merupakan bagian dari masalah terhadap solusi-solusi yang ada. Itulah sebabnya, generasi memble sebagai kutub negatif merupakan tanggungjawab generasi mapan untuk menarik generasi-generasi memble itu menjadi generasi-generasi yang mapan.