Lebaran, Momentum Reformasi Akhlak

OLEH: R. DACHRONI
Ketua Departemen Kebijakan Publik KAMMI Daerah Kepulauan Riau

untitled9Boleh percaya atau tidak, memasuki bulan Ramadan yang baru saja berlalu, cukup banyak sekali ibadah-ibadah yang jarang dilakukan sebelum Ramadan yang lazimnya relatif jarang dikerjakan telah kita lakukan untuk menambah bonus pahala yang Allah SWT janjikan. Nah, tanpa disadari kita telah mengakui bulan Ramadan adalah bulan yang menyadarkan umat muslim untuk berubah. Setelah berubah ke arah yang lebih baik, tentunya kita berharap perubahan yang baik itu dapat kita pertahankan.

Persoalannya mampukah kita mempertahankan perbuatan-perbuatan suci yang secara aktif kita lakukan pada bulan Ramadan. Misalnya, membaca Alquran setiap harinya, bersabar, tidak menggunjing kerabat atau tetangga dekat, bertutur jujur dan satu hal lagi yang penting selalu berpikir positif. Itulah output (hasil) yang sebenarnya dikehendaki Allah SWT setelah bulan Ramadan berakhir. Setiap umat muslim penulis yakin tidak ingin perubahan yang telah dilakukan selama sebulan penuh itu juga berakhir setelah Ramadan meninggalkan kita.

Itulah sebabnya, Ramadan selain disebut bulan latihan bagi umat Islam, cukup banyak kata-kata yang dapat disandingkan dengan Ramadan seperti Ramadan Bulan Ampunan, Ramadan Bulan yang Suci, Ramadan Bulan Alquran, Ramadan Momentum Intropeksi Diri, Ramadan Bulan Penuh Makna dan masih banyak kata-kata yang cocok untuk menjadi “temannya” bulan Ramadan jika ditinjau dari aspek ubudiyahnya, namun jika dilihat dari aspek duniawinya Ramadan ternyata juga menjadi master branding untuk pelaku bisnis seperti adanya istilah Ramadan Fair, Pasar Juadah Ramadan dan masih banyak lagi kata-kata bisnis lainnya yang dapat “dikawinkan”  dengan bulan Ramadan.

Bahkan, tidak hanya dari aspek ekonomi Ramadan juga telah memberikan inspirasi untuk para politisi yang bertarung dalam Pemilu 2009 kelak sebagai moment untuk tebar pesona alias kampanye. Itu sih sah-sah saja sejauh tidak melanggar aturan yang telah ada. Sehingga, Ramadan juga dapat disebut sebagai bulan kampanye sebab dijalan-jalan banyak ditemukan spanduk wajah caleg dilengkapi dengan logo partai plus diikuti dengan kalimat, “Selamat Menunaikan Ibadah Puasa 1429 H,”. Subhanallah, jadi tak perlulah kita ragukan keberkahan yang telah diberikan Allah SWT melalui bulan yang mulia ini.

Refleksi Ramadan dan Reformasi Akhlak

Sepuluh hari menjelang masuknya bulan Syawal, umat muslim diingatkan Nabi Muhammad SAW melalui sabda-sabdanya yang disampaikan kepada para sahabat untuk menjemput malam Lailatul Qadar yang akan hadir di salah satu malam yang hanya Allah SWT yang tahu kapan akan diturunkannya. Jika dikaitkan dengan momentum perubahan ada satu penekanan yang penting dan perlu diperhatikan umat Islam.

Penekanan itu adalah penekanan terhadap reformasi akhlak atau mental seperti yang telah Allah tegaskan dalam  sesuai dengan QS Al-Baqarah ayat 183 yang dengan tegas menyatakan puasa dikhususkan untuk orang beriman, maka merugilah orang-orang yang tidak berpuasa. Selain itu juga, menurut Dr. Zubaidi M.Ag, M.Pd dalam bukunya yang berjudul, Islam & Benturan Peradaban keberhasilan seorang Muslim dalam menepis godaan dari dalam dan luar diri inilah yang menjadi kesejatian puasa.
Seorang Muslim yang berpuasa diharapkan akan bersikap progresif dalam mensterilkan hati dari nafsu rendah dan nista (takhalli), menghiasi diri dengan prilaku yang luhur dan adiluhung (tahalli), dan terakhir dengan bertumpu pada takhalli dan tahalli, sampailah hati dan jiwa ke hadirat Tuhan, atau  Tuhan hadir dalam diri kita (tajalli). Melalui puasa pula, seorang Muslim diajari untuk mengendalikan praktik hidup hedonistik atau mengejar kesenangan indrawi semata.

Tugas kita sekarang adalah bagaimana mereformasi atau memformat ulang sikap mental yang memang tidak pantas berada dalam benak setiap umat muslim. Berbagai sikap mental negatif harus kita sadari dan dibuang jauh-jauh, sedangkan sikap mentalitas yang positif harus dipertahankan dan akan lebih baik lagi jika mentalitas sikap yang positif itu mampu ditularkan.

Sebagai manusia yang diciptakan untuk senantiasa progresif dan dinamis, sudah sewajarnya Ramadan dijadikan batu loncatan umat muslim untuk melakukan perubahan.

Tidak hanya terhadap pribadinya, tetapi kepada lingkungan, masyarakat dan bangsanya. Sehingga Ramadan yang telah dilalui dengan perjuangan yang tidak ringan dan tidak pula berat itu dapat bermakna di sebelas bulan berikutnya sebab nasib kita pada prinsipnya itu ditentukan oleh diri kita sendiri sesuai dengan yang telah difirmankan Allah SWT dalam QS Ar-Ra’d ayat 11.
“Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah.

Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia,”.
Sehingga, saat bulan Ramadan, kita benar-benar menjadi umat muslim yang sejati yang benar-benar lahir menjadi pribadi-pribadi suci dan kesucian yang hanya didapatkan oleh orang-orang yang menghadapi berbagai ujian dan cobaan saat melakukan latihan sebulan penuh. Persoalannya, bagaimana menjaga kesucian tersebut.

Memang itu bukanlah sesuatu yang mudah dan itu juga bukanlah sesuatu yang sulit sejauh umat muslim tetap komit dengan ibadah yang dilakukan selama Ramadan. Harus penulis sadari, ini adalah tips dan masukan penulis yang mudah-mudah berfaedah bagi penulis secara pribadi dan umat muslim pada umumnya. Setidaknya ada dua hal penting yang dapat menjaga kesucian yang Insya Allah akan kita peroleh saat bulan Syawal dan hari kemenangan yaitu dengan mereformasi akhlak dengan upaya perbaikan diri.

Pertama, tetap giat melaksanakan apa yang telah diperintahkan oleh Allah SWT yang telah dikerjakan secara sungguh-sungguh di bulan Ramadan dan menjauhi apa yang telah dilarang-Nya. Kedua, berdoa agar Allah SWT memberikan keistiqomahan kepada kita untuk senantiasa menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Mengakhiri tulisan ini, sebelum lidah ini kelu dan sebelum tubuh ini membisu dan  Syawal  pun telah menjelma, izinkanlah penulis untuk mengucapkan, Taqabbalallahu minnaa wa minkum (Semoga Allah menerima dari kami dan darimu). Selamat hari raya Idul Fitri 1429 H. Mohon maaf lahir dan batin. Semoga Allah menerima amal penulis dan amal kita semua. Amin.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.